Jumat, 30 Juli 2010

HEPATITIS TIPE B

Penyebab Hepatitis ternyata tak semata-mata virus. Keracunan obat, dan paparan berbagai macam zat kimia seperti karbon tetraklorida, chlorpromazine, chloroform, arsen, fosfor, dan zat-zat lain yang digunakan sebagai obat dalam industri modern, bisa juga menyebabkan Hepatitis. Zat-zat kimia ini mungkin saja tertelan, terhirup atau diserap melalui kulit penderita. Menetralkan suatu racun yang beredar di dalam darah adalah pekerjaan hati. Jika banyak sekali zat kimia beracun yang masuk ke dalam tubuh, hati bisa saja rusak sehingga tidak dapat lagi menetralkan racun-racun lain. 



HEPATITIS B 
Hepatitis virus B sering tercatat sebagai penyebab dari radang organ hati pada masyarakat di Indonesia . Hepatitis B pada saat menjangkiti tubuh penderita dapat terjadi peradangan akut pada hati yang dinamakan Hepatitis B Akut. Hepatitis B Akut ini pada sebagaian orang (80%) akan sembuh dengan sendirinya setelah 7 hingga 10 hari. Tetapi pada sebagian yang lain akan terjadi terus peradangan pada hati dengan intensitas yang rendah tetapi dalam waktu yang panjang (lebih dari 6 bulan), hal ini yang dinamakan dengan nama hepatitis B kronik. Petanda awal yang dipakai untuk mengetahui infeksi hepatitis B adalah pemeriksaan HBsAg. dan  Anti HBc IgM. Pada penderita hepatitis B kronik HbsAg menetap lebih dari 6 bulan. Selama dalam waktu ini penderita hepatitis B kronik terkadang merasa diri mudah lelah dan terkadang juga tidak merasakan apa - apa bila keadaan tubuh sedang sehat, tetapi proses peradangan dalam hati terus berlanjut hingga merusak seluruh struktur organ hati. Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui dan memantau dari perjalanan hepatitis B kronik adalah dengan pemeriksaan SGOT/SGPT, HbeAg dan pemeriksaan HBV-DNA. Bila pada pemeriksaan SGOT/SGPT tinggi (lebih dari 2x angka normal) dan HBV-DNA tinggi maka dianjurkan untuk mendapat obat anti virus hepatitis B. Monitoring dari fungsi hati sebaiknya dilakukan paling sedikit tiap 3 bulan untuk melihat progresifitas dari pertumbuhan virus hepatitis B.
Bahaya dari peradangan hati dan pertumbuhan virus hepatitis bila tidak diobati akan menjadikan organ hati kehilangan fungsinya dan menuju gagal organ hati dan keadaan ini bersifat menetap dan tidak bisa kembali pada keadaan normal (irreversible)

Bagaimana mengenali gejala Hepatitis B
- Tidak memiliki gejala yang khas :
- Rasa letih
- Demam
- Menggigil
- Tidak nafsu makan
- Mual dan muntah
- Kuning (kulit & mata)
- Nyeri perut kanan atas
 
PENULARAN
  • Secara vertikal, cara penularan vertikal terjadi dari Ibu yang mengidap virus Hepatitis B kepada bayi yang dilahirkan yaitu pada saat persalinan atau segera setelah persalinan.
  • Secara horisontal, dapat terjadi akibat penggunaan alat suntik yang tercemar, tindik telinga, tusuk jarum, transfusi darah, penggunaan pisau cukur dan sikat gigi secara bersama-sama serta hubungan seksual dengan penderita.
Sesungguhnya, tidak semua yang positif Hepatitis B perlu ditakuti. Dari hasil pemeriksaan darah, dapat terungkap apakah ada riwayat pernah kena dan sekarang sudah kebal, atau bahkan virusnya sudah tidak ada. Bagi pasangan yang hendak menikah, tidak ada salahnya untuk memeriksakan pasangannya untuk menenularan penyakit
Perawatan
Hepatitis yang disebabkan oleh infeksi virus menyebabkan sel-sel hati mengalami kerusakan sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Pada umumnya, sel-sel hati dapat tumbuh kembali dengan sisa sedikit kerusakan, tetapi penyembuhannya memerlukan waktu berbulan-bulan dengan diet dan istirahat yang baik.
Hepatitis B akut umumnya sembuh, hanya 10% menjadi Hepatitis B kronik (menahun) dan dapat berlanjut menjadi sirosis hati atau kanker hati. Saat ini ada beberapa perawatan yang dapat dilakukan untuk Hepatitis B kronis yang dapat meningkatkan kesempatan bagi seorang penderita penyakit ini. Perawatannya tersedia dalam bentuk antiviral seperti lamivudine dan adefovir dan modulator sistem kebal seperti Interferon Alfa ( Uniferon)

Selasa, 01 Juni 2010

ROADSHOW RW SIAGA SE-KOTA CIMAHI


Cimahi, Juni 2010

Pemerintah Kota Cimahi pada hari selasa (01/06/2010) memulai pelaksanaan kegiatan Road show RW Siaga yang bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan pengetahuan masyarakat Cimahi tentang keberadaan RW Siaga yang sangat berguna dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan juga lingkungan sehingga dapat mewujudkan Kota Cimahi Siaga Sehat 2012.

Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama antara Dinas Kesehatan, Satgas Kota Siaga, PKK, BPMPPKB dan Forum Kota Sehat (FKS) kota Cimahi yang pelaksanaannya diawali di Kelurahan Cipageran.
Dalam Kegiatan hari pertama diikuti oleh 125 peserta dari seluruh perwakilan RW yang terdapat di Kelurahan Cipageran dengan materi kegiatan yaitu cerdas cermat, jeopardy, simulasi, pembuatan poster dan penyuluhan serta pembuatan peta resiko bencana.  Di awal acara dimeriahkan pula dengan lomba yel yel yang sangat menghibur dan menumbuhkan semangat pelaksanaan kegiatan RW Siaga.

Pada kesempatan ini terlihat antusias tiap tiap peserta dalam untuk dapat menjawab setiap pertanyaan dan tugas yang diberikan. Keanekaragaman peserta yang terdiri dari Fasilitator RW siaga, Pengurus RW Siaga, Kader PKK, Kader PPGD, Tagana, Dasipena serta kader Satlakar meningkatkan rasa kebersamaan dan sepenanggungan sehingga setiap pertanyaan dan simulasi yang diberikan dapat dilaksanakan dengan baik.

Dalam sesi pembuatan peta resiko bencana terlihat bahwa masyarakat Kelurahan Cipageran telah mengerti dan memahami bencana yang mungkin terjadi dan dilakukan kegiatan dalam rangka pengurangan resiko bencana.

Pelaksanaan Roadshow RW Siaga ini merupakan rangkaian peringatan hari jadi Kota Cimahi juga merupakan kelanjutan pelaksanaan integrasi dan sinergitas Kota Sehat dengan RW Siaga.


Minggu, 23 Mei 2010

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT GUNUNG BOHONG

" Bila terjadi retakan tanah atau akan terjadi Longsor di Gunung Bohong, maka akan banyak tikus turun keluar dari gunung dan masuk ke rumah rumah", itulah yang diutarakan salah satu peserta dari kelurahan Cibeber saat Pelatihan Peningkatan Kapasitas RW Siaga Pengorganisasian dan komunikasi penanggulangan dan kesiapsiagaan bencana yang baru saja selesai dilakukan di Kota Cimahi.

Pada Kenyataannya, telah ada pula Kearifan ataupun Pengetahuan Lokal di masyarakat Cimahi. Dengan bermodalkan pengetahuan ini akan meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana dan juga meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesiapsiagaan bencana.
Bagi sebagian masyarakat kota dan Ahli manajemen bencana yang hanya berbasiskan tekhnologi modern menganggap pengetahuan lokal adalah sesuatu yang kuno dan tidak mungkin dijadikan upaya pengurangan risiko bencana.


Pengetahuan Lokal adalah cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat, yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secra turun temurun. Pengetahuan Lokal yang berasal dari dalam masyarakat sendiri disebarluaskan secara non-formal, dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan, dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi, serta tertanam di dalam cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup(Jennifer Baumwoll, 2008) dan merupakan sesuatu yang berkaitansecara spesifik dengan budaya tertentu, dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu (Rajib Shaw, 2008).


Dengan menggali kearifan dan pengetahuan lokal di masyarakat cimahi tentu saja dapat mengurangi resiko bencana yang mungkin terjadi dan meningkatkan kewaspadaan di masyarakat. Selain itu dengan kearifan tersebut penerimaan dimasyarakat menjadi lebih mudah dan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan gotong royong menjadi lebih meningkat.

Minggu, 09 Mei 2010

RW SIAGA SEBAGAI WADAH MENINGKATKAN KEWASPADAAN DINI MASYARAKAT

Forum kewaspadaan dini masyarakat (FKMD) adalah wadah bagi elemen masyarakat yang dibentuk dalam rangka menjaga dan memelihara kewaspadaan dini masyarakat. Sedangkan kewaspadaan dini masyarakat adalah kondisi kepekaan, kesiagaan, dan antisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi dan indikasi timbulnya bencana baik bencana perang, bencana alam, maupun bencana karena ulah manusia. Dengan kewaspadaan dini masyarakat diharapkan masyarakat dapat mengenali dan mengetahui sejak dini kemungkinan adanya faktor-faktor pemicu terjadinya permasalahan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat dengan mengamati indikasi-indikasinya, melalui kegiatan menjaring, menampung, mengkoordinasikan, dan mengkomunikasikan data dan informasi dari masyarakat mengenai potensi ancaman keamanan dan gejala atau peristiwa bencana dalam rangka upaya pencegahan dan penanggulangannya secara dini sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan sejak dini agar permasalahan tersebut tidak terjadi.

Pembentukan forum kewaspadaan dini masyarakat ini sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewaspadaan Dini Masyarakat yang didalamnya menyatakan bahwa membina dan memelihara ketentraman, ketertiban, dan perlindungan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, baik bencana perang, bencana alam, maupun bencana karena ulah manusia di daerah adalah menjadi tugas dan kewajiban Kepala Daerah dalam hal ini adalah pemerintah daerah setempat.

Bila dihubungkan dengan Kegiatan di RW SIAGA/DESA SIAGA dimana pada indikator ke 5 yaitu penanggulangan bencana dan kesiap-siagaan berbasis masyarakat tentu sudah sangat relevan. Karena pada dasarnya kegiatan RW SIAGA adalah melakukan pemberdayaan di masyarakat. Di Beberapa daerah telah terbentuk TAGANA, DASIPENA dan SATLAKAR bahkan telah dilakukan pula pelatihan P3K bagi kader tetapi peran mereka belum terorganisir secara efektif dan efisien disebabkan karena banyak faktor.

Pada tingkat kecamatan dan kelurahan telah ada pula satgas dan pokja siaga yang melakukan pembinaan terhadap RW SIAGA/DESA SIAGA. Dengan lebih memfokuskan dan mengoptimalkan pada kegiatan DESA SIAGA/RW SIAGA ini tentu ada baiknya, sehingga peran SKPD sebagai bagian dari POKJA KOTA SIAGA dapat lebih mengena dan tidak lebih membingungkan lagi masyarakat dengan banyaknya forum.

Untuk mengorganisir masyarakat pada tingkat Kota atau kabupaten yang telah terbentuk satgas kota siaga atau FORUM KOTA SEHAT dapat memasukkan /menambahkan fungsi pada pokja atau bidang yang telah terbentuk. Karena sebetulnya dalam suatu pemberdayaan yang melibatkan masyarakat luas, faktor yang terberat adalah pengorganisasian dan komunikasi.

Dalam pengorganisasian dan lebih menguatkan komunikasi antar masyarakat dalam penanggulangan bencana dan peningkatan kewaspadaan dini perlu kiranya suatu pertemuan khusus untuk saling mendekatkan antar sesama relawan yang berbeda tugas dan juga adanya suatu standar operasional tetap yang harus disosialisasikan, diuji coba melalui pelatihan atau simulasi dan dilakukan revisi untuk memperbaikinya sehingga ketika terjadi bencana, masyarakat dan sukarelawan terlatih telah mengetahui apa yang harus dilakukannya secara otomatis dengan menanggalkan seluruh atribut dan ego masing masing.

PENINGKATAN KAPASITAS STRATA RW SIAGA


PENGORGANISASIAN DAN KOMUNIKASI, KESIAP-SIAGAAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT
Cimahi, Mei 2010
Menyadari tingginya kerentanan terhadap bencana, tidak ada pilihan lain bagi masyarakat Cimahi untuk bersiaga mengantisipasi terjadinya bencana. Hal yang membuat masyarakat cimahi harus mempunyai kemampuan dan kesiapan dalam menghadapi bencana adalah letak Patahan Lembang yang ada di Kawasan Bandung utara dengan kemungkinan terjadi gempa dan kebakaran. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi tentu lebih bijak bila masyarakat dipersiapkan semenjak dini.
Pada sebagian besar bencana yang terjadi di Indonesia. Minimnya dan keterbatasan pengetahuan untuk memulai gerakan siaga bencana yang terorganisir dalam suatu wadah masyarakat adalah penyebab utama tingginya korban.
Wadah kemasyarakatan yang dapat diberdayakan untuk kegiatan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana tersebut adalah RW SIAGA. Dengan telah mempunyai struktur organisasi yang jelas dan kemampuan masyarakat yang telah ada seperti TAGANA, Dasipena, Kader PPGD/P3K dan Kader Terlatih Pemadaman Kebakaran di Kota Cimahi, serta meningkatkan Kapasitas RW siaga terutama indikator ke-5 yaitu Sistem kesiapsiagaan penanggulangan kegawat-daruratan dan bencana berbasis masyarakat maka perlu dilakukan pelatihan untuk menyamakan persepsi dan pengorganisasian serta komunikasi yang efektif dan efisien di masyarakat.
Pelatihan peningkatan kapasitas RW Siaga dalam Pengorganisasian dan komunikasi kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana ini dilakukan untuk 300 orang dari masyarakat (Tagana,dasipena,kader P3K,satlakar,fasilitator RW siaga, ketua/anggota Forum RW Siaga,kader) serta unsur lintas sektor (BAPEDA,BPPMKB,Kesra,Disnakerdukcasipsos,DAMKAR,PMI,PKK,Staf 15 Kelurahan) dan dilakukan dalam 4 angkatan yang berbeda dengan harapan dapat menggugah pentingnya kesiapsiagan dalam penanggulangan bencana yang dapat terjadi secara tidak terduga.
Pelatihan ini dilakukan dengan bantuan fasilitasi dari Yasayan IBU yang telah cukup berpengalaman dalam penanggulangan bencana di beberapa daerah di Indonesia dan berkomitmen dalam pengembangan  kesiap-siagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana di kota Cimahi. Fasilitator yang membantu dr.Ridwan "jack" Gustiana, Dadan "Wali" Mulyana, S.si, Widianto Soekarnen, SH mengemukakan bahwa "kegiatan Pelatihan pengorganisasian dan komunikasi bencana di Kota Cimahi ini sangat baik dan sudah sejalan dengan Kebutuhan Kota Cimahi dan langkah yang di lakukan Pemerintah Kota Cimahi melalui bidang jamproinfokes Dinas kesehatan ini merupakan langkah yang patut di apresiasi tinggi. Juga Pelatihan ini hanya sebuah permulaan saja dalam peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengurangi resiko bencana dan di harapkan bisa di ikuti dengan kegiatan-kegiatan lainnya, selain itu para peserta bisa menerapkan hasil dari pelatihannya di masyarakat RW maupun kelurahannya masing-masing."
Hasil sampai dengan angkatan ke-3, menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan karena antusiasme dari peserta pelatihan dan peran serta yang tinggi dari SKPD yang diundang.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pesta kecil-kecilan berupa Tiup Lilin dikarenakan 2 orang peserta yaitu U.Sukardi (kel.Baros),Ny Enung (Kel. Utama) dan Kang Widi Fasilitator berulang Tahun.
 Selamat berkarya Warga Cimahi...Selalu Siaga dan Wujudkan Kota Cimahi Siaga Sehat Mandiri 2012

Rabu, 14 April 2010

PENGORGANISASIAN DAN KOMUNIKASI BENCANA DAN KEGAWAT-DARURATAN BERBASIS MASYARAKAT DI RW SIAGA

Cimahi,April 2010

Pencanangan RW Siaga di Kota Cimahi sebagai wadah di masyarakat yang menunjang terbentuknya Kota Sehat telah sangat jelas yang akhirnya dapat menunjang peningkatan derajat kehidupan masyarakat sehingga terbentuk Jawa Barat Sehat dan Indonesia Sehat.

Dari 8 indikator RW Siaga, masyarakat Kota Cimahi telah melakukan sebagian besar kegiatan dengan mengupayakan peran serta dan pemberdayaan masyarakat. yang perlu dikembangkan adalah dalam hal kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana.

Dengan telah terbentuknya Kelompok Masyarakat dalam Penanggulangan bencana seperti TAGANA, DASIPENA, Kader P3K, dan satlakar yang mendapat pelatihan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Lingkungan Pemerintahan Kota Cimahi maupun melaui Organisasi seperti PMI dan Pramuka, tentu dapat lebih meningkatkan kewaspadaan pada setiap individu maupun masyarakat secara keseluruhan.


Untuk lebih mengefektifkan dan mengefisiensikan kelompok kelompok masyarakat tersebut, Pemerintah Kota Cimahi Melalui Dinas Kesehatan melakukan Pelatihan Pengorganisasian dan Komunikasi Bencana dan Kegawatdaruratan di RW Siaga sehingga masyarakat lebih teroganisir dan dapat meningkatkan Sistem kewaspadaan dini (Early Warning System)serta meminimalisir kejadian bencana dan Kejadian Luar Biasa (KLB) secara mandiri dengan mendayagunakan potensi yang ada di wilayahnya masing masing dan membentuk kebersamaan diantara masyarakat walaupun berbeda wilayah RW ataupun Kelurahan.

Pelatihan ini direncanakan akan dilakukan bekerja sama dengan Yayasan IBU (IBU FOUNDATION) yang telah mempunyai lama berkecimpung dalam penanggulangan bencana di tingkat Nasional dan telah mendapat pengakuan Internasional.