Selasa, 01 Juni 2010

ROADSHOW RW SIAGA SE-KOTA CIMAHI


Cimahi, Juni 2010

Pemerintah Kota Cimahi pada hari selasa (01/06/2010) memulai pelaksanaan kegiatan Road show RW Siaga yang bertujuan untuk meningkatkan peran serta dan pengetahuan masyarakat Cimahi tentang keberadaan RW Siaga yang sangat berguna dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan juga lingkungan sehingga dapat mewujudkan Kota Cimahi Siaga Sehat 2012.

Kegiatan ini dilakukan atas kerjasama antara Dinas Kesehatan, Satgas Kota Siaga, PKK, BPMPPKB dan Forum Kota Sehat (FKS) kota Cimahi yang pelaksanaannya diawali di Kelurahan Cipageran.
Dalam Kegiatan hari pertama diikuti oleh 125 peserta dari seluruh perwakilan RW yang terdapat di Kelurahan Cipageran dengan materi kegiatan yaitu cerdas cermat, jeopardy, simulasi, pembuatan poster dan penyuluhan serta pembuatan peta resiko bencana.  Di awal acara dimeriahkan pula dengan lomba yel yel yang sangat menghibur dan menumbuhkan semangat pelaksanaan kegiatan RW Siaga.

Pada kesempatan ini terlihat antusias tiap tiap peserta dalam untuk dapat menjawab setiap pertanyaan dan tugas yang diberikan. Keanekaragaman peserta yang terdiri dari Fasilitator RW siaga, Pengurus RW Siaga, Kader PKK, Kader PPGD, Tagana, Dasipena serta kader Satlakar meningkatkan rasa kebersamaan dan sepenanggungan sehingga setiap pertanyaan dan simulasi yang diberikan dapat dilaksanakan dengan baik.

Dalam sesi pembuatan peta resiko bencana terlihat bahwa masyarakat Kelurahan Cipageran telah mengerti dan memahami bencana yang mungkin terjadi dan dilakukan kegiatan dalam rangka pengurangan resiko bencana.

Pelaksanaan Roadshow RW Siaga ini merupakan rangkaian peringatan hari jadi Kota Cimahi juga merupakan kelanjutan pelaksanaan integrasi dan sinergitas Kota Sehat dengan RW Siaga.


Minggu, 23 Mei 2010

KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT GUNUNG BOHONG

" Bila terjadi retakan tanah atau akan terjadi Longsor di Gunung Bohong, maka akan banyak tikus turun keluar dari gunung dan masuk ke rumah rumah", itulah yang diutarakan salah satu peserta dari kelurahan Cibeber saat Pelatihan Peningkatan Kapasitas RW Siaga Pengorganisasian dan komunikasi penanggulangan dan kesiapsiagaan bencana yang baru saja selesai dilakukan di Kota Cimahi.

Pada Kenyataannya, telah ada pula Kearifan ataupun Pengetahuan Lokal di masyarakat Cimahi. Dengan bermodalkan pengetahuan ini akan meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap kegiatan-kegiatan pengurangan risiko bencana dan juga meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kesiapsiagaan bencana.
Bagi sebagian masyarakat kota dan Ahli manajemen bencana yang hanya berbasiskan tekhnologi modern menganggap pengetahuan lokal adalah sesuatu yang kuno dan tidak mungkin dijadikan upaya pengurangan risiko bencana.


Pengetahuan Lokal adalah cara-cara dan praktik-praktik yang dikembangkan oleh sekelompok masyarakat yang berasal dari pemahaman mendalam mereka akan lingkungan setempat, yang terbentuk dari tinggal di tempat tersebut secra turun temurun. Pengetahuan Lokal yang berasal dari dalam masyarakat sendiri disebarluaskan secara non-formal, dimiliki secara kolektif oleh masyarakat bersangkutan, dikembangkan selama beberapa generasi dan mudah diadaptasi, serta tertanam di dalam cara hidup masyarakat sebagai sarana untuk bertahan hidup(Jennifer Baumwoll, 2008) dan merupakan sesuatu yang berkaitansecara spesifik dengan budaya tertentu, dan mencerminkan cara hidup suatu masyarakat tertentu (Rajib Shaw, 2008).


Dengan menggali kearifan dan pengetahuan lokal di masyarakat cimahi tentu saja dapat mengurangi resiko bencana yang mungkin terjadi dan meningkatkan kewaspadaan di masyarakat. Selain itu dengan kearifan tersebut penerimaan dimasyarakat menjadi lebih mudah dan dapat meningkatkan rasa kebersamaan dan gotong royong menjadi lebih meningkat.

Minggu, 09 Mei 2010

RW SIAGA SEBAGAI WADAH MENINGKATKAN KEWASPADAAN DINI MASYARAKAT

Forum kewaspadaan dini masyarakat (FKMD) adalah wadah bagi elemen masyarakat yang dibentuk dalam rangka menjaga dan memelihara kewaspadaan dini masyarakat. Sedangkan kewaspadaan dini masyarakat adalah kondisi kepekaan, kesiagaan, dan antisipasi masyarakat dalam menghadapi potensi dan indikasi timbulnya bencana baik bencana perang, bencana alam, maupun bencana karena ulah manusia. Dengan kewaspadaan dini masyarakat diharapkan masyarakat dapat mengenali dan mengetahui sejak dini kemungkinan adanya faktor-faktor pemicu terjadinya permasalahan gangguan keamanan, ketentraman, dan ketertiban masyarakat dengan mengamati indikasi-indikasinya, melalui kegiatan menjaring, menampung, mengkoordinasikan, dan mengkomunikasikan data dan informasi dari masyarakat mengenai potensi ancaman keamanan dan gejala atau peristiwa bencana dalam rangka upaya pencegahan dan penanggulangannya secara dini sehingga dapat dilakukan tindakan pencegahan sejak dini agar permasalahan tersebut tidak terjadi.

Pembentukan forum kewaspadaan dini masyarakat ini sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewaspadaan Dini Masyarakat yang didalamnya menyatakan bahwa membina dan memelihara ketentraman, ketertiban, dan perlindungan masyarakat dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana, baik bencana perang, bencana alam, maupun bencana karena ulah manusia di daerah adalah menjadi tugas dan kewajiban Kepala Daerah dalam hal ini adalah pemerintah daerah setempat.

Bila dihubungkan dengan Kegiatan di RW SIAGA/DESA SIAGA dimana pada indikator ke 5 yaitu penanggulangan bencana dan kesiap-siagaan berbasis masyarakat tentu sudah sangat relevan. Karena pada dasarnya kegiatan RW SIAGA adalah melakukan pemberdayaan di masyarakat. Di Beberapa daerah telah terbentuk TAGANA, DASIPENA dan SATLAKAR bahkan telah dilakukan pula pelatihan P3K bagi kader tetapi peran mereka belum terorganisir secara efektif dan efisien disebabkan karena banyak faktor.

Pada tingkat kecamatan dan kelurahan telah ada pula satgas dan pokja siaga yang melakukan pembinaan terhadap RW SIAGA/DESA SIAGA. Dengan lebih memfokuskan dan mengoptimalkan pada kegiatan DESA SIAGA/RW SIAGA ini tentu ada baiknya, sehingga peran SKPD sebagai bagian dari POKJA KOTA SIAGA dapat lebih mengena dan tidak lebih membingungkan lagi masyarakat dengan banyaknya forum.

Untuk mengorganisir masyarakat pada tingkat Kota atau kabupaten yang telah terbentuk satgas kota siaga atau FORUM KOTA SEHAT dapat memasukkan /menambahkan fungsi pada pokja atau bidang yang telah terbentuk. Karena sebetulnya dalam suatu pemberdayaan yang melibatkan masyarakat luas, faktor yang terberat adalah pengorganisasian dan komunikasi.

Dalam pengorganisasian dan lebih menguatkan komunikasi antar masyarakat dalam penanggulangan bencana dan peningkatan kewaspadaan dini perlu kiranya suatu pertemuan khusus untuk saling mendekatkan antar sesama relawan yang berbeda tugas dan juga adanya suatu standar operasional tetap yang harus disosialisasikan, diuji coba melalui pelatihan atau simulasi dan dilakukan revisi untuk memperbaikinya sehingga ketika terjadi bencana, masyarakat dan sukarelawan terlatih telah mengetahui apa yang harus dilakukannya secara otomatis dengan menanggalkan seluruh atribut dan ego masing masing.

PENINGKATAN KAPASITAS STRATA RW SIAGA


PENGORGANISASIAN DAN KOMUNIKASI, KESIAP-SIAGAAN DAN PENANGGULANGAN BENCANA BERBASIS MASYARAKAT
Cimahi, Mei 2010
Menyadari tingginya kerentanan terhadap bencana, tidak ada pilihan lain bagi masyarakat Cimahi untuk bersiaga mengantisipasi terjadinya bencana. Hal yang membuat masyarakat cimahi harus mempunyai kemampuan dan kesiapan dalam menghadapi bencana adalah letak Patahan Lembang yang ada di Kawasan Bandung utara dengan kemungkinan terjadi gempa dan kebakaran. Dengan kepadatan penduduk yang tinggi tentu lebih bijak bila masyarakat dipersiapkan semenjak dini.
Pada sebagian besar bencana yang terjadi di Indonesia. Minimnya dan keterbatasan pengetahuan untuk memulai gerakan siaga bencana yang terorganisir dalam suatu wadah masyarakat adalah penyebab utama tingginya korban.
Wadah kemasyarakatan yang dapat diberdayakan untuk kegiatan kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana tersebut adalah RW SIAGA. Dengan telah mempunyai struktur organisasi yang jelas dan kemampuan masyarakat yang telah ada seperti TAGANA, Dasipena, Kader PPGD/P3K dan Kader Terlatih Pemadaman Kebakaran di Kota Cimahi, serta meningkatkan Kapasitas RW siaga terutama indikator ke-5 yaitu Sistem kesiapsiagaan penanggulangan kegawat-daruratan dan bencana berbasis masyarakat maka perlu dilakukan pelatihan untuk menyamakan persepsi dan pengorganisasian serta komunikasi yang efektif dan efisien di masyarakat.
Pelatihan peningkatan kapasitas RW Siaga dalam Pengorganisasian dan komunikasi kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana ini dilakukan untuk 300 orang dari masyarakat (Tagana,dasipena,kader P3K,satlakar,fasilitator RW siaga, ketua/anggota Forum RW Siaga,kader) serta unsur lintas sektor (BAPEDA,BPPMKB,Kesra,Disnakerdukcasipsos,DAMKAR,PMI,PKK,Staf 15 Kelurahan) dan dilakukan dalam 4 angkatan yang berbeda dengan harapan dapat menggugah pentingnya kesiapsiagan dalam penanggulangan bencana yang dapat terjadi secara tidak terduga.
Pelatihan ini dilakukan dengan bantuan fasilitasi dari Yasayan IBU yang telah cukup berpengalaman dalam penanggulangan bencana di beberapa daerah di Indonesia dan berkomitmen dalam pengembangan  kesiap-siagaan masyarakat dalam penanggulangan bencana di kota Cimahi. Fasilitator yang membantu dr.Ridwan "jack" Gustiana, Dadan "Wali" Mulyana, S.si, Widianto Soekarnen, SH mengemukakan bahwa "kegiatan Pelatihan pengorganisasian dan komunikasi bencana di Kota Cimahi ini sangat baik dan sudah sejalan dengan Kebutuhan Kota Cimahi dan langkah yang di lakukan Pemerintah Kota Cimahi melalui bidang jamproinfokes Dinas kesehatan ini merupakan langkah yang patut di apresiasi tinggi. Juga Pelatihan ini hanya sebuah permulaan saja dalam peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengurangi resiko bencana dan di harapkan bisa di ikuti dengan kegiatan-kegiatan lainnya, selain itu para peserta bisa menerapkan hasil dari pelatihannya di masyarakat RW maupun kelurahannya masing-masing."
Hasil sampai dengan angkatan ke-3, menunjukkan hasil yang cukup menggembirakan karena antusiasme dari peserta pelatihan dan peran serta yang tinggi dari SKPD yang diundang.
Pada kesempatan tersebut juga dilakukan pesta kecil-kecilan berupa Tiup Lilin dikarenakan 2 orang peserta yaitu U.Sukardi (kel.Baros),Ny Enung (Kel. Utama) dan Kang Widi Fasilitator berulang Tahun.
 Selamat berkarya Warga Cimahi...Selalu Siaga dan Wujudkan Kota Cimahi Siaga Sehat Mandiri 2012

Rabu, 14 April 2010

PENGORGANISASIAN DAN KOMUNIKASI BENCANA DAN KEGAWAT-DARURATAN BERBASIS MASYARAKAT DI RW SIAGA

Cimahi,April 2010

Pencanangan RW Siaga di Kota Cimahi sebagai wadah di masyarakat yang menunjang terbentuknya Kota Sehat telah sangat jelas yang akhirnya dapat menunjang peningkatan derajat kehidupan masyarakat sehingga terbentuk Jawa Barat Sehat dan Indonesia Sehat.

Dari 8 indikator RW Siaga, masyarakat Kota Cimahi telah melakukan sebagian besar kegiatan dengan mengupayakan peran serta dan pemberdayaan masyarakat. yang perlu dikembangkan adalah dalam hal kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana.

Dengan telah terbentuknya Kelompok Masyarakat dalam Penanggulangan bencana seperti TAGANA, DASIPENA, Kader P3K, dan satlakar yang mendapat pelatihan dari Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Lingkungan Pemerintahan Kota Cimahi maupun melaui Organisasi seperti PMI dan Pramuka, tentu dapat lebih meningkatkan kewaspadaan pada setiap individu maupun masyarakat secara keseluruhan.


Untuk lebih mengefektifkan dan mengefisiensikan kelompok kelompok masyarakat tersebut, Pemerintah Kota Cimahi Melalui Dinas Kesehatan melakukan Pelatihan Pengorganisasian dan Komunikasi Bencana dan Kegawatdaruratan di RW Siaga sehingga masyarakat lebih teroganisir dan dapat meningkatkan Sistem kewaspadaan dini (Early Warning System)serta meminimalisir kejadian bencana dan Kejadian Luar Biasa (KLB) secara mandiri dengan mendayagunakan potensi yang ada di wilayahnya masing masing dan membentuk kebersamaan diantara masyarakat walaupun berbeda wilayah RW ataupun Kelurahan.

Pelatihan ini direncanakan akan dilakukan bekerja sama dengan Yayasan IBU (IBU FOUNDATION) yang telah mempunyai lama berkecimpung dalam penanggulangan bencana di tingkat Nasional dan telah mendapat pengakuan Internasional.

Selasa, 13 April 2010

SARASEHAN FASILITATOR SIAGA SEHAT

Cimahi, Maret 2010


Dengan telah diperolehnya penghargaan tingkat Nasional dalam upaya memciptakan kota sehat yaitu penghargaan SWASTI SABHA pada tahun 2009 serta penghargaan Kota terbaik II tingkat Provinsi Jawa Barat dalam Kegiatan Pengembangan RW / Desa Siaga maka sudah sepantasnya dilakukan upaya untuk mendekatkan antara fasilitator RW Siaga, Pendamping RW Siaga, Pokja Siaga tingkat Kota, Satgas Siaga Kecamatan, Pokja Kelurahan Siaga, Forum Kota Sehat serta Tim Pembina Kota Sehat.
Oleh sebab itu dilakukan Sarasehan Fasilitator RW Siaga dan Kota Sehat ke-1 yang mengusung Tema “DENGAN INTEGRASI DAN SINERGITAS RW SIAGA KOTA SEHAT MEWUJUDKAN KOTA CIMAHI SIAGA SEHAT MANDIRI 2012" yang sebelumnya didahului dengan pelaksanaan Pra-sarasehan yang dihadiri oleh Lurah, fasilitator RW Siaga dan Pendamping RW Siaga untuk menyamakan persepsi dan tujuan dibentuknya Forum SIAGA SEHAT.
Dalam Sarasehan tersebut dibacakan Komitmen bersama Fasilitator yang merupakan rangkuman kesepakatan hasil Prasaresehan berisi 5 (Lima) Komitmen dihadapan seluruh peserta sarasehan yang diikuti dengan penandatanganan komitmen tersebut diatas spanduk sepanjang 10 meter
Acara yang berlangsung diawali dengan pemutaran slide penghargaan yang diterima oleh pemerintah dan masyarakat Cimahi dilanjutkan dengan pertunjukan musik kaleng oleh siswa siswi SMA N 4 Cimahi yang memukau peserta Sarasehan.
Acara tersebut dihadiri Walikota Cimahi Ir. H. M. Itoc Tochija. MM beserta seluruh jajarannya dan kepala
SOPD di lingkungan Pemerintah Kota Cimahi, Perwakilan anggota DPRD Kota Cimahi, sebagai Ketua Pokja Siaga Tingkat Kota Ny. Atty Suharti Tochija, Ketua Forum Kota sehat beserta anggotanya dan 400 fasilitator dan Pendamping RW Siaga.
Dalam Kesempatan Tersebut Walikota Cimahi memberikan amanat dan pengarahan kegiatan Kota Siaga yang terintegrasi dan bersinergis dengan Kota Sehat dengan menekankan pentingnya kerjasama lintas sektoral yang disertai dengan peran serta masyarakat kota Cimahi sehingga tujuan Kota Siaga Sehat yaitu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, meningkatkan kesehatan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat dapat tercapai sehingga terwujud KOTA CIMAHI SIAGA SEHAT MANDIRI 2012.

Senin, 22 Maret 2010

PELATIHAN KONSELOR LAKTASI TINGKAT KOTA CIMAHI


Cimahi,Maret 2010
Pemberian ASI (Air Susu Ibu) eksklusif yang saat ini tengah didengungkan membutuhkan kerjasama seluruh komponen masyarakat baik secara kelompok maupun individu, sehingga kegiatan tersebut bukan hanya merupakan dengungan nyamuk yang hanya sesaat tetapi dapat terus dikembangkan dan bermanfaat bagi seluruh masyarakat.
Hak seorang anak untuk mendapatkan ASI merupakan keharusan yang dipenuhi oleh setiap orang tua, meskipun banyak mitos yang berkembang di msyarakat yang dapat menurunkan keengganan seorang ibu untuk meberikan ASI nya secara sempurna.
Menurut drg. Pratiwi. Mkes,  Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Keluarga (Kesga) Dinas kesehatan Kota Cimahi mengatakan bahwa Kegiatan yang dilaksanakan 8 s/d 11 Maret  2010 dilakukan untuk meningkatkan cakupan ASI Eksklusif di Kota Cimahi yang merupakan daerah Sub Urban sehingga timbul kesadaran di masyarakat untuk memberikan ASI minimal 6 bulan meskipun ibu bekerja dan juga untuk merubah mitos yang ada di masyarakat seperti ASI yang kurang, Bentuk payudara yang rusak setelah menyusui dan lain lain, Selain itu kegiatan ini juga untuk menunjang terwujudnya Kota Cimahi Sehat mandiri 2012.
Dengan program pelatihan konselor dan fasilitator laktasi, diharapkan :
1. Memiliki tenaga profesional yang dapat dan mampu membantu ibu menyusui, memberikan dukungan serta melindungi menyusui sehingga terbentuk masyarakat Cimahi khususnya dan masyarakat Indonesia yang kuat cerdas sejak awal kehidupannya.
2.   Membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya ASI sebagai satu-satunya makanan yang diperlukan oleh bayi usia 0-6 bulan atau Menyusui Eksklusif.
Tetap memberi ASI setelah 6 bulan ditambah makanan pendamping ASI dari makanan keluarga yang tepat waktu serta kualitas dan kuantitasnya.
3.   Memotivasi dan lebih memberikanTenaga Kesehatan pemahaman konsep pemberian makan bayi dan anak dengan tepat.
4.   Tersosialisasinya Kebijakan Nasional dan Internasional mengenai pemberian makanan untuk bayi dan anak.
5.  Meningkatkan kemampuan peserta dalam hal konseling menyusui serta keterampilan dalam berkomunikasi, khususnya komunikasi dalam memberi layanan masyarakat baik.

Dalam kegiatan pelatihan tersebut dilakukan orientasi lapangan ke sejumlah rumah sakit yang ada di Kota Cimahi juga rumah rumah ibu menyusui untuk terjun secara langsung memberikan konseling Menyusui dengan mempertimbangkan kondisi dan situasi sekitarnya, sehingga Konselor dapat langsung mempraktekkan setelah pelatihan selesai.